Beijing (ANTARA) - Pemerintah China menegaskan akan tetap menjadi teman yang baik bagi negara-negara Amerika Latin dan Karibia meski Amerika Serikat (AS) ingin kembali memberlakukan Doktrin Monroe (Monroe Doctrine), kata Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China Lin Jian dalam konferensi pers di Beijing, Senin (5/1).
Doktrin Monroe adalah doktrin yang dirumuskan oleh Presiden AS James Monroe pada 1823 yang awalnya bertujuan untuk menentang campur tangan Eropa di Belahan Bumi Barat (Western Hemisphere) yang meliputi Amerika Utara, Amerika Selatan, Karibia serta perairan sekitarnya.
Doktrin tersebut dimaksudkan untuk mencegah kolonisasi Eropa atau campur tangan lain di negara-negara merdeka di Belahan Bumi Barat. Sebagai imbalannya, AS juga setuju untuk tidak ikut campur dalam perang dan urusan internal Eropa.
Alasannya, karena banyak negara Amerika Latin baru saja memperoleh kemerdekaan dari Eropa, terutama Spanyol. Monroe ingin mencegah Eropa merebut kembali kendali dan menegaskan pengaruh AS di kawasan tersebut.
Presiden AS Donald Trump juga sempat menyatakan bahwa AS harus menegaskan kendali atas Belahan Barat, merujuk pada penafsiran modern Doktrin Monroe abad ke-19 yang menentang kolonialisme Eropa di kawasan tersebut.
Namun dalam wawancara dengan media di AS, ia menegaskan bahwa keputusan menargetkan penjabat presiden Venezuela didasarkan pada kondisi negara tersebut, bukan semata lokasinya.
"Kebijakan China di kawasan Amerika Latin dan Karibia (LAC) mempertahankan kontinuitas dan konsistensi. Kami menjunjung prinsip non-intervensi dalam urusan internal negara lain, menghormati pilihan rakyat Amerika Latin dan Karibia dan tidak pernah menarik garis berdasarkan perbedaan ideologis," tambah Lin Jian.
Pertukaran dan kerja sama China dan negara-negara di kawasan tersebut mengikuti prinsip kesetaraan dan saling menguntungkan, tidak pernah mencari wilayah pengaruh dan tidak pernah menargetkan pihak mana pun.
"China siap bekerja sama dengan negara-negara Amerika Latin dan Karibia yang memiliki hubungan diplomatik dengan China untuk memperdalam kepercayaan strategis bersama, saling memahami dan mendukung dalam isu-isu yang menyangkut kepentingan inti dan perhatian utama bersama termasuk kedaulatan nasional, keamanan dan integritas wilayah," ungkap Lin Jian.
China, kata Lin Jian juga mendukung negara-negara di kawasan tersebut untuk saling mendukung dalam mengikuti jalur pembangunan yang sesuai dengan kondisi nasional masing-masing negara dan menentang hegemoni dan politik kekuasaan.
"China dengan tegas mendukung status kawasan Amerika Latin dan Karibia sebagai Zona Perdamaian. China menentang setiap pelanggaran terhadap tujuan dan prinsip Piagam PBB dan kedaulatan serta keamanan negara lain, ancaman atau penggunaan kekerasan dalam hubungan internasional, dan campur tangan kekuatan eksternal dalam urusan internal negara-negara LAC dengan dalih apa pun," ungkap Lin Jian.
"Keterbukaan, inklusivitas, dan kerja sama yang saling menguntungkan adalah ciri khas kerja sama China-Amerika Latin. Mereka memiliki hak untuk secara mandiri memilih jalur pembangunan dan mitra kerja sama," tegas Lin Jian.
Baca juga: Setelah Venezuela, Kolombia bisa jadi target Trump berikutnya
Baca juga: Finlandia, Swedia dukung Denmark soal Greenland di tengah tekanan AS
Pewarta: Desca Lidya Natalia
Editor: Primayanti
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.






















:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5427425/original/007717300_1764386840-ENHYPEN.jpg)




:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5429429/original/044154400_1764586227-Girona_vs_Real_Madrid-3.jpg)


:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5400503/original/040123300_1762135066-Zeki_Celik_Davide_Bartesaghi.jpg)










English (US) ·