Beijing (ANTARA) - Manajer bisnis senior di Federasi Kota Pariwisata Dunia (World Tourism Cities Federation/WTCF) Waad Melliti menyebutkan bahwa Beijing merupakan salah satu kota yang paling mudah dijelajahi.
"Tidak masalah apakah Anda bisa berbahasa Mandarin atau tidak. Anda hanya perlu memiliki pikiran dan hati yang terbuka untuk menikmati kota ini," ujar Melliti dalam wawancara dengan Xinhua baru-baru ini.
Daftar destinasi wisata terbaik National Geographic untuk 2026, yang dirilis pada Oktober 2025 lalu, menobatkan Beijing sebagai salah satu kota terbaik untuk dikunjungi pada tahun ini, sebuah pengakuan yang menurut Melliti memang pantas diberikan kepada Beijing.
"Beijing adalah tempat sejarah, budaya, dan pariwisata berpadu dengan sempurna," ujarnya.
Menurut dia, Beijing merupakan kota di mana sejarah bukanlah sesuatu yang kita cari, tetapi justru menemukan kita.
"Sejarah hidup di batu-batu di bawah kaki Anda, di pintu-pintu kuno yang telah dibuka dan ditutup selama beberapa generasi, di reruntuhan yang membisikkan nama-nama dinasti di masa lalu," ujarnya.
Setelah menghabiskan lebih dari 10 tahun di Beijing, Melliti mengatakan bahwa kota tersebut tak pernah berhenti membuatnya terpikat.
"Ke mana pun Anda pergi, selalu ada kisah yang menunggu untuk ditemukan. Butuh waktu bagi warga asing untuk benar-benar memahami dan mengapresiasi kota ini," katanya.
Melliti secara khusus menyukai hutong, atau gang-gang tradisional, di Beijing, yang menjadi bagian favoritnya dari kota itu. "Rekan-rekan saya menjuluki saya 'gadis hutong.'
"Hutong memberikan gambaran unik tentang gaya hidup tradisional Beijing yang dinamis. Saat berjalan kaki atau bersepeda melintasinya, saya merasakan ritme kehidupan yang lebih lambat serta kuatnya rasa kebersamaan," ujar Melliti.
Menara Genderang, yang terletak di dekat kantor Melliti di sepanjang Poros Tengah Beijing, telah menjadi teman dalam aktivitas hariannya.
Saat istirahat makan siang, Melliti kerap mengunjungi hutong di sekitarnya, menikmati kopi di kafe-kafe lokal sembari mengagumi arsitektur kuno dan pemandangan matahari terbenam yang menakjubkan.
Melliti juga sangat menyukai jajanan kaki lima di Beijing. "Tanghulu, baozi, jianbing, dan wandouhuang adalah favorit saya. Aromanya yang tercium dari para pedagang kaki lima sangat menggiurkan," katanya.
Dalam beberapa tahun terakhir, China telah menerapkan berbagai kebijakan untuk meningkatkan pengalaman wisatawan mancanegara (wisman). Melliti mengatakan bahwa Beijing menjadi semakin ramah wisman.
"Transportasi umum kini lebih mudah diakses, dan semakin mudah untuk menggunakan kartu perbankan internasional dalam pembayaran. Alipay dan WeChat Pay dapat digunakan baik oleh warga lokal maupun asing, dan banyak layanan kini menyediakan terjemahan dalam bahasa Inggris," kata Melliti.
Dia juga menyoroti peningkatan layanan di bandara-bandara Beijing, di mana layanan terpadu memberikan solusi satu pintu bagi para pelancong internasional.
"Pengunjung asing kini dapat memperoleh nomor telepon lokal di bandara, serta menggunakan kartu internasional untuk naik kereta bawah tanah," ujarnya.
Menurut dia, sektor kuliner Beijing yang dinamis semakin menambah daya tarik kota itu.
"Restoran ada di mana-mana, menawarkan beragam pilihan makanan. Melakukan kunjungan singkat atau tinggal untuk waktu lama, anda akan merasa mudah. Hampir semua orang berbicara setidaknya sedikit bahasa Inggris, sehingga memudahkan wisatawan asing untuk menjelajah," ujarnya.
Pariwisata di Beijing mengalami pertumbuhan signifikan dalam beberapa tahun terakhir berkat kebijakan visa yang lebih menguntungkan serta berbagai kebijakan yang memudahkan lainnya.
Berdasarkan data resmi, total penumpang yang keluar dan masuk melalui pelabuhan Beijing melampaui 20 juta orang pada 2025, meningkat 1,1 kali lipat dari total pada tahun sebelumnya, mencatatkan rekor baru untuk arus penumpang tahunan sejak 2020. Warga negara asing menyumbang sekitar 30 persen dari total tersebut.
Melliti mengungkapkan kegembiraannya atas meningkatnya minat terhadap Beijing dan China secara keseluruhan.
"Pariwisata berkembang pesat di China, dan semakin banyak kota bergabung dengan WTCF. Melalui platform ini, kami bertekad untuk menghubungkan kota-kota pariwisata secara global dan mempromosikan kota-kota di China kepada para pelancong internasional," ujarnya.
Sebagai pencinta budaya China, Melliti senang membagikan apresiasinya terhadap Opera Beijing.
"Kostum, tata rias, gerakannya, semuanya sarat dengan makna budaya mendalam. Teks terjemahan dalam bahasa Inggris membantu penonton asing memahami pertunjukan tersebut," ujarnya.
Melliti juga menyoroti kesamaan antara budaya kuliner China dan latar belakangnya dari Tunisia.
"Sebagai contoh, hotpot adalah tentang kebersamaan. Ini adalah pengalaman komunal, mirip dengan tradisi kami berbagi makanan di kampung halaman," ujarnya.
Bagi Melliti, Beijing hampir sempurna sebagai kota pariwisata: lancar, cepat, dan dikelola dengan baik. "Selalu ada hal baru yang bisa dieksplorasi," ujar Melliti.
Pewarta: Xinhua
Editor: Imam Budilaksono
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.




















:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5427425/original/007717300_1764386840-ENHYPEN.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5429429/original/044154400_1764586227-Girona_vs_Real_Madrid-3.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5400503/original/040123300_1762135066-Zeki_Celik_Davide_Bartesaghi.jpg)
















English (US) ·