Rencana pemerintah menargetkan jumlah cadangan beras pemerintah (CBP) sebanyak 4 juta ton pada 2026, dinilai bisa mengerek harga beras. Penetapan CBP 4 juta ton ini diiringi dengan penugasan Perum Bulog untuk menyerap gabah setara beras dalam jumlah yang sama.
Pakar ekonomi pertanian dan akademisi senior di Universitas Padjadjaran, Ronnie S Natawidjaja, mengatakan jika Bulog menyerap gabah dari petani dalam jumlah besar dan terus menahan stok di gudang, maka harga beras di pasaran akan naik.
Kondisi ini terjadi jika cadangan beras di gudang Bulog dalam angka yang tinggi tapi pasokan di pasaran tipis.
“Tahun lalu terjadi blunder pada saat Bulog mengeklaim bahwa jumlah stok berlebih tapi semuanya ada dalam gudang Bulog. Yang ada di pasar dan gudang-gudang umumnya terbatas hingga suplai tercekik, akibatnya harga beras naik,” tutur Ronnie kepada kumparan, Sabtu (10/1).
Selain itu, akan ada persaingan sengit antar penggilingan jika Bulog menyerap dalam jumlah besar. Penggilingan swasta akan berebut untuk membeli gabah dari petani, kemudian penggilingan kecil akan tersisihkan dan kesulitan mendapatkan stok.
“Agar persaingan antar-penggilingan tidak meningkat harga pasar beras, Bulog harus memiliki perhitungan akurat tentang supply demand beras, dan merespons dengan cepat bila terlihat adanya kemacetan/keterlambatan arus supply dengan melepas jumlah stok untuk menyeimbangkan,” jelasnya.
Senada dengan Ronnie, pengamat pertanian dan peternakan, Syaiful Bahari, juga melihat pentingnya Bulog melepaskan stok dalam waktu yang tepat untuk meredam harga beras di pasaran.
Meskipun menurut Syaiful besar kecilnya cadangan beras yang dikantongi Bulog tidak menjadi persoalan, jika Bulog bisa memastikan stok tersebut dapat menormalkan harga beras.
“Stok beras yang di tangan pemerintah itu harus didistribusi ke pasar agar harga beras kembali turun. Jadi persoalan utama sebenarnya bukan lagi berapa banyak stok yang disimpan. Tetapi apakah stok yang besar bisa menormalkan kembali harga beras seperti yang lalu,” tuturnya.
Dia juga menyebutkan jika Bulog bisa menyerap 4 juta ton pada 2026, ditambah cadangan beras mendapatkan carry over dari tahun lalu sebesar 3,24 juta ton, maka seharusnya harga beras sudah bisa turun.
Syaiful menyarankan agar pemerintah tidak berfokus pada angka stok cadangan beras, tetapi upaya untuk mendorong harga beras turun. “Jangan banyak menyimpan stok beras tetapi harga beras tidak turun-turun sejak 2023,” jelasnya.
Sebelumnya, Perum Bulog memproyeksi cadangan beras yang dikantongi pemerintah pada 2026 akan mencapai angka 7 juta ton, naik dari capaian tertinggi pada 2025 sebanyak 4 juta ton.
Direktur Utama Perum Bulog, Ahmad Rizal Ramdhani, menyebut jika stok saat ini yang sebanyak 3,35 juta ton ditambah dengan penyerapan pada 2026 sebanyak 4 juta ton, maka cadangan beras pemerintah (CBP) pada tahun 2026 akan sebanyak 7 juta ton.
"Insyaallah dengan stok ini akan terus bertambah karena potensi hasil panen dari Kementerian Pertanian, kami bulog ditargetkan di tahun 2026 ini targetnya serapannya adalah 4 juta ton. Jadi kalau nambah 4 juta ton, ditambah 3 juta ton (CBP saat ini), ya hampir 7 juta lebih nanti stok kami," kata Ahmad Rizal di Kantor Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Jumat (9/1).

21 hours ago
6





















:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5427425/original/007717300_1764386840-ENHYPEN.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5429429/original/044154400_1764586227-Girona_vs_Real_Madrid-3.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5400503/original/040123300_1762135066-Zeki_Celik_Davide_Bartesaghi.jpg)
















English (US) ·