Hari masih libur sekolah. Pagi itu, murid PAUD Kunang-kunang berlarian menyambut mobil Badan Gizi Nasional (BGN) yang tetap mengirim Makan Bergizi Gratis (MBG), meski kalender pendidikan sedang kosong.
Dingin menggigit kulit, mendung menggulung langit Batu Lawang, Cipanas, Cianjur. Namun anak-anak itu tak peduli. Mereka melompat kegirangan saat petugas menurunkan tas-tas oranye berisi makanan kering.
“Aya endok (ada telur)!” seru Rista, anak Yeni, sambil mengeluarkan tiga butir telur rebus dari dalam tas.
“Aya jeruk jeng apel (ada jeruk dan apel)!” Nafisa, anak Yuni—sepupu Rista—tak mau kalah, memamerkan buah.
“Susu…!” teriak anak lain sambil mengangkat tiga kotak susu, tertawa seperti baru memenangkan lotere kecil.
Sebanyak 35 tas MBG--jatah tiga hari--diturunkan pagi itu. Padahal murid PKBM PAUD Kunang-kunang Batu Lawang hanya 20 anak.
“Dapur BGN Sindanglaya memberi jatah lebih untuk anak-anak di sini yang tidak terdaftar. Mereka nitip ceu’na (katanya), supaya anak lain tetap bisa merasakan manfaat,” ujar Sri Ningsih, pengelola PKBM PAUD Kunang-kunang. Wajahnya tak mampu menyembunyikan rasa syukur.
Dapur SPPG Sindanglaya 4 Cipanas memang kerap memberi lebih, meski anak-anak itu tak tercatat sebagai murid resmi.
“Kasihan. Walaupun mereka tidak sekolah, kami tetap kasih. Supaya mereka bisa menikmati program pemerintah. Itu tujuan kami mendirikan dapur MBG,” ujar Imam Tantowi, pengelola SPPG Sindanglaya 4. Anak muda yang belum genap 35 tahun ini menyimpan mimpi sederhana namun besar: mendirikan lebih banyak dapur agar anak-anak di pelosok tak lagi luput dari perhatian negara.
Cahaya yang Tak Pernah Sampai ke Rumah
Di balik tas oranye MBG, tersimpan cerita panjang tentang perjuangan Sri Ningsih mengejar ketertinggalan anak-anak Batu Lawang. Padahal desa ini hanya sekitar tiga jam perjalanan dari Jakarta, pusat pemerintahan negara.
“Di sini, listrik ada di sekolah, tapi tidak sampai ke rumah-rumah warga,” ujar Ningsih pelan. “Kalau mau pasang, mahal. Sekitar satu setengah juta, belum tiangnya, satu juta per tiang. Dari mana masyarakat di sini bayar? Mereka buruh tani.”
Rumah Ningsih adalah titik terakhir aliran listrik PLN. Tahun 2013, ia dan suaminya mendaftarkan sambungan listrik ke rumah mereka yang berdampingan dengan gedung gedek sekolah—agar PKBM PAUD Kunang-kunang bisa berjalan. Setiap pagi, para wali murid mengantar anak sekaligus menumpang mengisi daya ponsel. Telepon genggam menjadi satu-satunya jendela Batu Lawang ke dunia luar.
Dua belas tahun berlalu, sekolah berdinding gedek dengan atap yang kerap bocor itu telah meluluskan lebih dari seratus anak. Saat hujan turun, Ningsih dan suaminya kerap menjemput murid-murid yang tinggal di atas gunung karena jalan menjadi becek dan sulit dilalui.
Bau kotoran ternak sesekali menyelinap ke ruang belajar. Sekitar dua puluh meter dari sekolah, kandang sapi berdiri tenang, seolah ikut menyaksikan perjuangan itu.
“Mbak, bisa tawarkan sapi saya ke Pak Presiden?” canda Ningsih setengah serius. “Siapa tahu laku. Uangnya buat perbaiki atap atau daftar listrik. Biar hujan tidak lagi menghentikan anak-anak sekolah.”
Ia memelihara tak lebih dari tujuh ekor sapi, dijual saat Idul Adha. Dari situlah PKBM Kunang-kunang bertahan. Ningsih, lulusan SMK, belajar mengajar SMA kesetaraan secara otodidak. Dulu, sebelum internet menjangkau Cipanas, ia turun ke Jakarta hanya untuk mengunduh bahan ajar, lalu belajar semalam suntuk sebelum mengajar.

21 hours ago
5





















:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5427425/original/007717300_1764386840-ENHYPEN.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5429429/original/044154400_1764586227-Girona_vs_Real_Madrid-3.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5400503/original/040123300_1762135066-Zeki_Celik_Davide_Bartesaghi.jpg)
















English (US) ·