PM Keir Starmer dan Presiden Macron menandatangani kesepakatan penempatan pasukan dan pembangunan pusat militer di Ukraina pasca-gencatan senjata dengan Rusia.(Media Sosial X)
INGGRIS dan Prancis secara resmi menandatangani deklarasi niat untuk menempatkan pasukan di Ukraina apabila kesepakatan damai dengan Rusia berhasil dicapai. Pengumuman ini disampaikan Perdana Menteri Inggris, Sir Keir Starmer, usai melangsungkan pertemuan tingkat tinggi dengan negara-negara sekutu Ukraina di Paris, Selasa (6/1).
Dalam kesepakatan tersebut, Inggris dan Prancis berencana membangun "pusat militer" di berbagai wilayah Ukraina. Fasilitas tersebut akan mencakup infrastruktur terlindungi untuk penyimpanan senjata dan peralatan militer sebagai langkah pencegahan terhadap potensi invasi di masa depan.
Jaminan Keamanan Jangka Panjang
Berbicara dalam konferensi pers bersama, PM Keir Starmer menegaskan pentingnya kerangka hukum bagi kehadiran pasukan asing di tanah Ukraina.
"Kami menandatangani deklarasi niat mengenai pengerahan pasukan ke Ukraina jika terjadi kesepakatan damai. Ini adalah bagian vital dari komitmen kami untuk mendukung Ukraina dalam jangka panjang. Hal ini membuka jalan bagi kerangka hukum di mana pasukan Inggris, Prancis, dan mitra dapat beroperasi di tanah Ukraina, mengamankan langit dan laut Ukraina, serta meregenerasi angkatan bersenjata Ukraina untuk masa depan," ujar Starmer.
Selain penempatan pasukan, para sekutu mengusulkan agar Amerika Serikat (AS) mengambil peran utama dalam memantau jalannya gencatan senjata. Negosiator utama AS, Steve Witkoff, yang hadir bersama utusan khusus Jared Kushner, menyatakan bahwa jaminan keamanan yang tahan lama adalah kunci perdamaian abadi.
Kemajuan Negosiasi Damai
Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky menyambut baik hasil pertemuan di Paris ini dan menyebutnya sebagai "langkah maju yang besar". Meski demikian, Zelensky menegaskan bahwa upaya ini baru dianggap cukup jika benar-benar mampu mengakhiri perang secara total. Pekan lalu, ia sempat mengungkapkan bahwa draf kesepakatan damai sebenarnya sudah "90% siap".
Hingga saat ini, masalah wilayah dan jaminan keamanan tetap menjadi penghalang utama dalam perundingan. Presiden Rusia Vladimir Putin secara konsisten menuntut penarikan mundur pasukan Ukraina dari seluruh wilayah Donbas sebagai syarat mutlak, sebuah tuntutan yang sejauh ini ditolak oleh Kyiv.
Rusia telah berulang kali memberikan peringatan keras kehadiran pasukan asing di Ukraina akan dianggap sebagai "target yang sah" bagi militer mereka. Namun, hingga berita ini diturunkan, Moskow belum memberikan komentar resmi terkait penandatanganan deklarasi terbaru antara London dan Paris ini. (BBC/Z-2)

1 day ago
9





















:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5427425/original/007717300_1764386840-ENHYPEN.jpg)




:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5429429/original/044154400_1764586227-Girona_vs_Real_Madrid-3.jpg)




:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5400503/original/040123300_1762135066-Zeki_Celik_Davide_Bartesaghi.jpg)








English (US) ·