Jakarta (ANTARA) - Direktur NEXT Indonesia Center Herry Gunawan menilai hadirnya Kompleks Haji di Makkah, Arab Saudi, akan menciptakan multiplier effect (efek berganda) bagi perekonomian di tanah air, salah satunya membuka peluang penyerapan tenaga kerja.
Ia mencontohkan ekosistem penyediaan makanan atau konsumsi untuk jamaah haji apabila dikerjakan secara baik maka berpotensi melibatkan pemasok dari Indonesia, terutama untuk kebutuhan dapur.
“Misalnya, dari lauk-pauk seperti ikan dan tempe sampai bumbu dapur. Ini peluang yang besar, sehingga berdampak juga pada penyerapan tenaga kerja di tanah air,” ujar Herry saat dihubungi ANTARA di Jakarta, Kamis.
Sementara itu, bagi jamaah haji, Ia mengatakan, akan lebih merasakan kenyamanan karena seolah-olah berada di kampung halaman sendiri, dengan makanan yang tersedia sesuai dengan selera masyarakat Indonesia.
“Efek pengganda ini jangan dilupakan. Ini punya nilai ekonomi dan sosial yang lebih besar ketimbang dari sekadar pengembalian investasi yang diterima dari proyek akomodasi kampung haji di Arab Saudi,” ujar Herry.
Menurut dia, proyek ini sangat strategis bagi Danantara maupun perekonomian nasional karena jemaah haji Indonesia merupakan yang terbesar dibandingkan negara lain, dengan triliunan rupiah belanja jamaah yang mencakup akomodasi dan lainnya selama ini menjadi devisa Arab Saudi.
“Dengan kehadiran proyek Kampung Haji yang dikelola oleh entitas usaha atau badan milik Indonesia, maka belanja yang dikeluarkan oleh jamaah haji akan kembali ke Indonesia sebagai hasil investasi yang dilakukan oleh Danantara,” ujar Herry.
Secara ekonomi, Herry menilai jamaah haji merupakan captive market (pasar khusus), yang mana ada kepastian daya serap dalam jangka panjang.
“Jamaah haji merupakan captive market. Tinggal jamaah umrah yang jadi pekerjaan rumah, bagaimana bisa digarap sekalian. Selain itu, bisnis tersebut sustain dalam jangka panjang. Dengan demikian, ada kepastian daya serap pasar. Risiko bisnisnya jadi lebih rendah,” ujar Herry.
Di sisi lain, Ia mengingatkan terkait dengan stabilisasi harga, yang perlu menjadi perhatian Danantara dan pemerintah Indonesia.
“Jangan sampai gara-gara Danantara investasi di Arab Saudi, ongkos haji malah naik. Karena itu, menurut saya, Danantara harus melibatkan Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH). Kalau BPKH dapat untung dari investasi di sektor riil bersama Danantara, dampak positifnya ke subsidi biaya haji yang bisa lebih besar,” ujar Herry.
Melalui stabilisasi harga, Ia mengatakan nantinya berdampak terhadap biaya menunaikan haji yang cenderung stabil bahkan menurun.
“Keterlibatan BPKH bisa saja masuk di ekosistem dapur, seperti yang selama ini sudah dilakukan oleh entitas anak usahanya di Arab Saudi. Pentingnya keterlibatan BPKH adalah dalam rangka stabilisasi ongkos haji, bukan soal bisnis,” ujar Herry.
Baca juga: Pengamat nilai hadirnya kompleks haji tingkatkan layanan jemaah RI
Baca juga: Danantara target Kompleks Haji Makkah tahap awal tampung 22.000 jemaah
Baca juga: Diplomasi Prabowo hasilkan hotel di Makkah untuk Kampung Haji
Pewarta: Muhammad Heriyanto
Editor: Agus Salim
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5427425/original/007717300_1764386840-ENHYPEN.jpg)




:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5429429/original/044154400_1764586227-Girona_vs_Real_Madrid-3.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5400503/original/040123300_1762135066-Zeki_Celik_Davide_Bartesaghi.jpg)












English (US) ·