Anak Masih Kecil, Bagaimana Cara Sampaikan Perceraian Orangtua? Ini Kata Psikolog

1 day ago 1
informasi online berita online kabar online liputan online kutipan online slot slot gacor slot maxwin slot online slot game slot gacor online slot maxwin online slot game online slot game gacor online slot game maxwin online demo slot demo slot online demo slot game demo slot gacor demo slot maxwin demo slot game online demo slot gacor online demo slot maxwin online demo slot game gacor online demo slot game maxwin online rtp slot rtp slot online rtp slot game rtp slot gacor rtp slot maxwin rtp slot game online rtp slot gacor online rtp slot maxwin online rtp slot game gacor online rtp slot game maxwin online informasi penting online berita penting online kabar penting online liputan penting online kutipan penting online informasi online terbaru berita online terbaru kabar online terbaru liputan online terbaru kutipan online terbaru informasi online terkini berita online terkini kabar online terkini liputan online terkini kutipan online terkini informasi online terpercaya berita online terpercaya kabar online terpercaya liputan online terpercaya kutipan online terpercaya informasi online berita online kabar online liputan online kutipan online informasi akurat berita akurat kabar akurat liputan akurat kutipan akurat informasi penting berita penting kabar penting liputan penting kutipan penting informasi viral berita viral kabar viral liputan viral kutipan viral informasi terbaru berita terbaru kabar terbaru liputan terbaru kutipan terbaru informasi terkini berita terkini kabar terkini liputan terkini kutipan terkini informasi terpercaya berita terpercaya kabar terpercaya liputan terpercaya kutipan terpercaya informasi hari ini berita hari ini kabar hari ini liputan hari ini kutipan hari ini informasi viral online berita viral online kabar viral online liputan viral online kutipan viral online informasi akurat online berita akurat online kabar akurat online liputan akurat online kutipan akurat online slot slot gacor slot maxwin slot online slot game slot gacor online slot maxwin online slot game online slot game gacor online slot game maxwin online demo slot demo slot online demo slot game demo slot gacor demo slot maxwin demo slot game online demo slot gacor online demo slot maxwin online demo slot game gacor online demo slot game maxwin online rtp slot rtp slot online rtp slot game rtp slot gacor rtp slot maxwin rtp slot game online rtp slot gacor online rtp slot maxwin online rtp slot game gacor online rtp slot game maxwin online

Liputan6.com, Jakarta - Perceraian tidak hanya berdampak pada pasangan yang mengalaminya. Ketika pasangan sudah memiliki anak, konteks cerai seringkali menimbulkan masalah baik bagi ibu maupun ayah.

Misalnya anak sudah berusia lima tahun, banyak orangtua menganggap masih kecil. Padahal pada usia tersebut anak cenderung sudah mampu mengenali perubahan di sekitarnya. Ketidakhadiran salah satu orangtua tentu menjadi perhatian yang signifikan bagi anak ketika orangtua bercerai. Sedangkan bagi orangtua, sulit rasanya jika harus menjelaskan kondisi itu pada anak.

Psikolog yang juga dosen Tika Bisono, mengungkapkan terdapat beberapa cara yang dilakukan orangtua untuk menjelaskan soal perceraian kepada anaknya.

Kasus yang sering ia temukan berupa obrolan dari orangtua kepada anak. Secara perlahan, orangtua perlu memberikan pemahaman kepada anak tentang perbedaan konsep ayah-ibu dengan suami-istri.

“Beberapa contoh yang gue pernah lihat itu, anak itu diajak ngomong tentang konsep suami-istri gitu loh. Beda kan dengan konsep mama-papa, beda lah. Jadi ini waktu ngomong suami-istri, tapi nggak itu yang udah nggak bisa lagi satu atap gitu karena sudah ada perbedaan. Ini kan konsep yang sulit ya,” kata Tika melalui sambungan telepon bersama Tim Health Liputan6.com pada Kamis, 8 Januari 2026.

Tika menambahkan, pemahaman konsep yang sulit dilakukan mendorong beberapa orangtua mempertahankan hubungannya. Hal ini umumnya dari segi pernikahan atau tempat tinggal.

“Anak umur satu sampai lima tahun, beda apanya kan gitu ya, dan konsep suami-istri, ini mereka nggak tahu. Mereka taunya kan ayah-ibu, makanya kenapa mereka mempertahankan masih satu rumah. Gue nemuin yang kayak gini. Nah itu karena menjaga itu tadi, sampai anaknya ngerti bahwa kita sudah cerai,” jelasnya.

Pentingnya Mengatur Jadwal Pertemuan

Tidak seperti di Tanah Air, Tika mengibaratkan kasus perceraian di luar negeri bagaikan makan kacang goreng. Meski lumrah, perceraian tentunya membuat anak-anak tetap terpukul ketika mengetahui orangtua tidak lagi satu atap.

Di negeri Barat, katanya, pengadilan membuat jadwal resmi untuk pengasuhan anak. Hal ini dilakukan sebagai upaya agar anak tidak mengalami guncangan mental terhadap perceraian orangtua.

Sayangnya, di Indonesia belum ada aturan demikian. Oleh karena itu, penting bagi orangtua membuat jadwalnya sendiri agar anak tetap mendapatkan pola asuh yang lengkap.

“Itu benar-benar harus disadari bahwa ada schedule yang harus didisiplinkan gitu. Mereka ada schedule yang harus ditepati gitu. Nah ini yang menurutku harusnya para orangtua itu memahami ini,” ujar Tika.

Lebih lanjut, Tika menegaskan bahwa mental anak justru akan terganggu jika dirinya menerima larangan untuk bertemu sang ibu atau ayah. Hubungan yang rusak antara anak dan salah satu orangtua juga akan berbahaya bagi perkembangan anak di masa mendatang.

“Kan sebenarnya perceraian boleh aja, tapi jangan merusak. Nah sementara, perceraian itu sendiri sudah merusak energinya gitu,” tambahnya.

Langkah Pemulihan yang Tepat Setelah Bercerai

Tika menggarisbawahi pentingnya dukungan sosial bagi seseorang yang mengalami perceraian, terutama perempuan. Energi yang baik dari sekitarnya sangat dibutuhkan dalam masa pemulihan.

“Untuk punya sahabat yang selalu ingin untuk ngobrol, kemudian dengan kakak adik yang ternyata empatinya sangat baik gitu ya kan, atau kalau ada orangtua yang bisa jadi kawan misalnya gitu ya kan,” ujarnya.

Selain dukungan sosial, Tika juga mengingatkan bahwa kepribadian yang kuat dan mental yang matang juga sangat diperlukan. Hal ini dapat memengaruhi sistem ‘120 menit’ dalam diri seseorang.

Menurutnya, sekitar waktu dua jam cukup bagi seseorang berpikir dan memilih keputusan yang baik untuk menentukan langkahnya sendiri.

“Konsep 120 menit ini konsep emergency di kantor-kantor biasanya. Nah ini kalau misalnya konsep 120 menit kan berarti 2 jam ya kan, kita ngambil keputusannya benar atau nggak nih dalam 2 jam. Nah itu sangat dipengaruhi oleh tadi itu, ekosistem internal dan eksternal tadi,” jelas Tika.

Tidak membohongi diri sendiri adalah satu langkah baik dalam pemulihan. Ketika diri sudah pulih dari keadaan, katanya, kondisi seseorang justru akan jauh lebih bahagia setelah perceraian terjadi.

Read Entire Article