Bahaya Terselubung dari Teknik Heading Sepak Bola, Ada Risiko Gangguan Saraf Mengintai

1 day ago 1
informasi online berita online kabar online liputan online kutipan online slot slot gacor slot maxwin slot online slot game slot gacor online slot maxwin online slot game online slot game gacor online slot game maxwin online demo slot demo slot online demo slot game demo slot gacor demo slot maxwin demo slot game online demo slot gacor online demo slot maxwin online demo slot game gacor online demo slot game maxwin online rtp slot rtp slot online rtp slot game rtp slot gacor rtp slot maxwin rtp slot game online rtp slot gacor online rtp slot maxwin online rtp slot game gacor online rtp slot game maxwin online informasi penting online berita penting online kabar penting online liputan penting online kutipan penting online informasi online terbaru berita online terbaru kabar online terbaru liputan online terbaru kutipan online terbaru informasi online terkini berita online terkini kabar online terkini liputan online terkini kutipan online terkini informasi online terpercaya berita online terpercaya kabar online terpercaya liputan online terpercaya kutipan online terpercaya informasi online berita online kabar online liputan online kutipan online informasi akurat berita akurat kabar akurat liputan akurat kutipan akurat informasi penting berita penting kabar penting liputan penting kutipan penting informasi viral berita viral kabar viral liputan viral kutipan viral informasi terbaru berita terbaru kabar terbaru liputan terbaru kutipan terbaru informasi terkini berita terkini kabar terkini liputan terkini kutipan terkini informasi terpercaya berita terpercaya kabar terpercaya liputan terpercaya kutipan terpercaya informasi hari ini berita hari ini kabar hari ini liputan hari ini kutipan hari ini informasi viral online berita viral online kabar viral online liputan viral online kutipan viral online informasi akurat online berita akurat online kabar akurat online liputan akurat online kutipan akurat online slot slot gacor slot maxwin slot online slot game slot gacor online slot maxwin online slot game online slot game gacor online slot game maxwin online demo slot demo slot online demo slot game demo slot gacor demo slot maxwin demo slot game online demo slot gacor online demo slot maxwin online demo slot game gacor online demo slot game maxwin online rtp slot rtp slot online rtp slot game rtp slot gacor rtp slot maxwin rtp slot game online rtp slot gacor online rtp slot maxwin online rtp slot game gacor online rtp slot game maxwin online

Liputan6.com, Jakarta - Ada banyak sekali teknik yang digunakan bintang sepak bola untuk mencetak skor dalam setiap pertandingan. Salah satu teknik yang sering kita lihat adalah heading.

Teknik heading dilakukan pemain sepak bola untuk menerima sasaran bola yang melambung dari atas. Dengan sundulan, bola terlempar kembali ke pemain selanjutnya atau langsung memasuki gawang.

Meski menguntungkan, nyatanya sundulan bisa berdampak buruk bagi kondisi saraf seseorang jika dilakukan terlalu sering.

Melansir BBC pada Jumat, 9 Januari 2026, benturan yang terjadi secara berulang dapat menyebabkan penyakit Alzheimer, parkinson, dan gangguan saraf motorik lainnya di kemudian hari. Hal ini menjadi jawaban dari masalah yang kerap dialami mantan atlet sepak bola.

Bahaya terselubung ini sudah diteliti para ahli selama hampir 100 tahun. Sebuah studi pada 1928 menunjukkan bahwa banyak petinju yang mengalami ‘mabuk pukulan’. Kondisi ini umum terjadi pada petinju yang kurang baik dan menerima banyak pukulan di kepala.

Para penggemar dan ahli patologi menyadari adanya gejala spesifik pada setiap petinju. Gejala ini meliputi gaya berjalan yang gontai dan ekspresi kebingungan. Dalam beberapa kasus, gejala ini mendeskripsikan penyakit neuron yang disebut demensia pugilistika.

Kasus Bintang Sepak Bola Meninggal Akibat Masalah Neuron

Pada 2002, pemain bola West Bromwich Albion dari Inggris, Jeff Astle, meninggal dunia pada usia 59 tahun. Sebelumnya, atlet yang berhasil mencetak 174 gol ini didiagnosis menderita demensia dini.

Kejadian yang serupa dialami pemain sepak bola Amerika, Mike Webster. Pada tahun yang sama, Mike meninggal secara mendadak di usia 50 setelah mengalami penurunan kognitif dan gejala yang mirip dengan Parkinson.

Kedua kasus tersebut menyita perhatian para ahli. Pemeriksaan otak pada bintang olahraga itu menunjukkan bahwa keduanya meninggal karena ensefalopati traumatik kronis (CTE). Istilah ini merupakan nama modern yang menggantikan diagnosis demensia pugilistika.

Kasus yang sama juga terjadi pada tahun 2011. Mantan pemain bola Chicago Bears, David Duerson, meninggal karena bunuh diri setelah menderita depresi. Meskipun penyebabnya termasuk kasus mental, pemeriksaan otak David menunjukkan bahwa dia juga mengalami CTE.

CTE: Kondisi yang Khas dan Spesifik

Seorang konsultan neuropatolog di University of Glasgow dari Inggris, Willie Stewart, mengatakan bahwa CTE merupakan bentuk patologi otak degeneratif yang sangat spesifik. Hal ini karena gejalanya sering terlihat pada seseorang yang mengalami cedera kepala atau benturan secara berulang.

Kondisi ini juga dikenal khas dalam dunia patologi. Jika dilihat melalui mikroskop, otak akan menampilkan pola spesifik terhadap endapan protein abnormal yang disebut protein tau.

Menurut Stewart, cara terbaik untuk mengidentifikasi risiko CTE pada seseorang adalah dengan bertanya terkait aktivitas yang dilakukannya. Jika seseorang merupakan pemain sepak bola profesional dan menderita demensia, maka kemungkinan CTE dalam otaknya sangat tinggi.

Di samping itu, kasus ini juga diperkuat dengan sebuah studi pada tahun 2008. Studi ini dilakukan oleh profesor neurologi dan patologi Boston University, Ann Mckee, dan beberapa rekannya. Temuannya menunjukkan sebanyak 91,7 persen dari 376 otak mantan pemain National Football League (NFL) mengalami kondisi CTE.

Berbanding terbalik dengan temuannya, prevalensi CTE di populasi umum perkiraannya kurang dari satu persen.

Mckee juga diketahui telah mendiagnosis CTE pada mantan pemain bisbol, pesepeda, dan bintang hoki es. Dalam semua kasus, faktor yang mendasarinya secara umum adalah benturan berulang di area kepala.

Tidak Hanya CTE

Studi lain dari Football’s influence on Lifelong Health and Dementia Risk (FIELD) menyatakan bahwa teknik heading tidak hanya menyebabkan CTE. Teknik sundulan ini juga berkaitan erat dengan kondisi degeneratif otak lainnya.

Pada 2019, Stewart dan timnya memeriksa catatan medis dari 8.000 mantan pemain sepak bola Skotlandia. Catatan ini dibandingkan dengan 23 ribu anggota populasi umum.

Dari penelitian itu, Stewart menemukan perbedaan spesifik antara otak yang terkena benturan dengan ciri penuaan. Otak mantan pemain sepak bola menunjukkan bahwa mereka lima kali lebih berisiko terkena penyakit alzheimer, empat kali terhadap neuron motorik, dan dua kali terhadap parkinson dibandingkan dengan orang-orang seusia mereka.

Secara garis besar, mantan pemain sepak bola berisiko 3,5 lebih tinggi mengalami kematian karena penyakit neurodegeneratif daripada yang diperkirakan.

Menurutnya, risiko paling tinggi terjadi di posisi yang sering terkena sundulan. Oleh karena itulah mengapa gangguan neuron sering dialami para pemain bertahan, termasuk penjaga gawang.

Dengan temuan-temuan tersebut, Stewart menyimpulkan bahwa semakin profesional seseorang dalam sepak bola, semakin tinggi pula risikonya terkena neurodegeneratif. Selain pemain sepak bola, kasus ini juga umum terjadi pada mantan pemain rugby union internasional.

Kondisi Otak Ketika Menyundul Bola

CTE seringkali ditemukan setelah seseorang meninggal. Hal ini karena CTE meninggalkan jejak di dalam otak. Namun, seorang profesor di Columbia University Irving Medical Center (CUIMC), Michael Lipton, berhasil mendeteksi tanda-tanda awal CTE menggunakan MRI.

Dalam pemeriksaan, Lipton kerap menerima pendaftaran dari pemain muda dari tim universitas atau liga rekreasi. Berdasarkan penelitiannya, dia menemukan bahwa orang yang sering menyundul bola cenderung meraih skor terendah saat tes akademis dan memori.

Selain itu, mereka juga menunjukkan tanda-tanda kerusakan di bagian otak di belakang dahi. Tepat di area atas rongga mata yang sering dikenal sebagai korteks orbitofrontal.

Di area tersebut, terdapat materi putih yang sangat rentan. Lipton mengibaratkan materi ini seperti jaringan kabel dalam otak. Filamen-filamen halus yang ada di jaringan tersebut dikenal sebagai akson yang dapat mentransmisikan informasi.

Benturan dapat mengubah filamen-filamen ini. Perubahan kecepatan gerakan kepala yang tiba-tiba menyebabkan otak terpental-pental di dalam tengkorak, meregangkan akson, dan mengganggu konektivitasnya.

Menurutnya, menyundul bola tidak menyebabkan cedera berat seperti patah tulang atau pendarah. Akan tetapi, aktivitas ini mampu menggerakkan otak yang lunak sehingga berpotensi terkompresi, terpelintir, tertekan, atau bahkan berubah bentuk.

Kerusakan Paling Parah Terjadi di Korteks Orbitofrontal

Selanjutnya, Lipton juga menemukan bahwa celah di antara materi putih dan abu-abu di korteks orbitofrontal mengalami kerusakan paling parah akibat sundulan. Hal ini dibuktikan dengan pemeriksaan atas kondisi pemain bola yang menyundul lebih dari seribu bola per tahun.

Lipton memperkirakan adanya perbedaan kepadatan materi antara keduanya. Sehingga pergerakan kepala para pemain saat menyundul mengalami gaya geser di celah kedua materi tersebut.

Namun, hal-hal tidak terduga tampaknya selalu terjadi di dunia medis.

Lipton mengungkapkan bahwa kondisi ini relatif terjadi pada orang muda dan sehat. Akan tetapi, kondisi yang terdengar menyeramkan ini belum tentu menyebabkan penyakit pada otak.

Sebagian orang mungkin akan mengalami masalah saraf di kemudian hari, tapi tidak sedikit juga yang tidak mengalaminya. Daripada jumlah menyundul bola, beberapa orang mengalami CTE, alzheimer, parkinson, atau penyakit neuron motorik karena genetik dan faktor gaya hidup.

Pada pasien yang mengalami gangguan di kemudian hari, ditemukan fakta bahwa pemicunya adalah kerusakan pembuluh darah. Lipton mengatakan bahwa pembuluh darah menyebabkan peradangan dan dapat membuka jalan bagi zat-zat asing masuk ke dalam otak.

Oleh karena itu, Lipton sangat merekomendasikan pencegahan, mulai dari penggunaan helm khusus teknik heading atau mengurangi teknik itu dilakukan di setiap pertandingan.

Read Entire Article